Perbedaan, Perjalanan, Perdamaian
Oleh Rio Rahadian Tuasikal *Untuk dosen komunikasi lintas budaya, pelancong, penulis dan aktivis toleransi. Yang untuk menciptakan damai, semuanya harus bersindikat. Pemandu Keraton Yogyakarta, turis lokal dan turis asing tertawa bersama di kompleks Keraton, Selasa (30/10/12) lalu. “Perjalanan bisa bikin damai atau konflik,” kata penulis perjalanan Agustinus Wibowo, dalam Kongkow Buku “Titik Nol” di Stikom Bandung, Senin (25/3) malam. Hal itu, katanya, bergantung pada sikap turis dan pribumi sendiri. Bila saling memaksakan cara pandang, tentu akan menimbulkan perpecahan. Tapi jika saling buka pandangan, akan buat saling pengertian. Bagaimana perdamaian bisa dimulai lewat jalan-jalan? Penjelasan dimulai dari stigma, yakni sikap curiga pada budaya lain. Misalnya kita percaya bahwa orang Batak itu galak, orang Amerika itu penuh syahwat dan sebagainya. Sadar atau tidak, asumsi ini ditanamkan oleh orang tua dan guru kita sejak lahir. Alhasil, saking nyamannya d...