Posts

Showing posts from February, 2014

Valentine: Debat Kusir Moral dan Kasih Sayang*

Image
*Tulisan ini atas permintaan kang Boim, juga merespon Tristia Riskawati   “Cokelatnya sekalian, Mas?” tanya pegawai Alfamart itu pada saya, kemarin siang. Saya perhatikan cokelat yang dia maksud: 3 batang Silverqueen yang diikat pita bekilau warna ungu. Saya gelengkan kepala singkat. Saya hanya menyodorkan sebotol air mineral dan sebotol susu. Saya membayar dua minuman itu dan lekas pergi. Saya bergumam, Valentine sudah datang ternyata. Pantas saja di Facebook sudah ada debat rutin antara kelompok pacaran dan moralis. Ketika yang pacaran heboh soal kegalauan atau rencana hari rayanya, moralis giat menebarkan tautan berisi lagu lama. Tautan itu berisi asal usul Valentine yakni tradisi Lupercalia yang merupakan pemujaan Dewa seks dan kesuburan bangsa Romawi. Kemudian dalil bahwa yang meniru perbuatan itu berarti bagian kaum itu. Tahun ini moralis punya amunisi baru: mereka kaitkan perayaan Valentine dengan sejumlah bencana di Sinabung, Manado, Jakarta, dan Kel...

Frequency: For Public or Politicians?

Image
  Wiranto and Harry Tanoe are not actors. But on February 1, they played on a popular soap opera “ Tukang Bubur Naik Haji ” (Porridge Seller Go Hajj) on RCTI. Since they are presidential candidates from Hanura (People’s Conscience Party), this was not their acting career, but political campaign. They refused it by saying it was not a campaign. Indonesia will hold the legislative election on April 9, and presidential election on July 9, but various political messages on TV has been getting more often since last year. From regular advertising to quizes, talent show and even soap opera. Since presidential candidates from 3 parties are also television owners, this condition seems easy to understand. Facing election, independence of several media in Indonesia may makes us worry. Grab your remote and watch Global TV, RCTI, or MNC TV, you will find Wiranto and Harry Tanoe (candidates from Hanura) almost everywhere. Switch the channel to Metro TV, you will see Surya Paloh (can...

#4 Independen: Publik dan Ideologi Politik, di Antaranya

Image
“Independensi semangat dan pikiran inilah, dan bukannya netralitas, yang harus diperhatikan sungguh-sungguh oleh wartawan.” Saya baca kalimat itu berulang kali karena bingung. Yang saya pahami selama ini adalah jurnalisme tidak pernah memihak, sebagaimana Koran Jakarta menggunakannya sebagai jargon. Namun Bill Kovach benar-benar menulis demikian. Dia punya pandangan lain soal netralitas media ini. Bila jurnalisme harus netral, tulisnya, rubrik kolom dan opini batal jadi produk jurnalistik. Bagaimana dengan redaktur senior the Jakarta Post Sabam Siagian yang gemar menulis kolom yang pasti beropini? Haruskah dia dicoret dari daftar wartawan? Tidak. Wartawan boleh percaya pada satu gagasan. Bila ruang opini ini hilang, justru fungsi jurnalisme untuk kontrol sosial pun lenyap. Media tidak bisa netral sepenuhnya dari gagasan politik. Wartawan Hidayatullah.com boleh percaya sistem Islam formalistik adalah yang terbaik. Begitu pun wartawan KBR68H boleh percaya pada prinsip HAM, d...