Posts

Showing posts from January, 2014

#3 Verifikasi: Kuncinya Cuma Curiga

Image
Sebuah koran di Bandung pada November 2013 mengutip perkataan saya, “Jangan sampai Bandung ada kekerasan lagi, jangan sampai ada intoleransi dan mampu dihayati bersama guna menjaga Bandung.” Namun saya tak merasa benar-benar mengatakan frasa terakhir. Tulisan di atas mengindikasikan penghayatan pada intoleransi. Padahal maksud saya justru menghayati “jangan sampai ada intoleransi”. Ini menimbulkan penafsiran ganda. Adalah betul saya bicara seperti itu, namun jurnalis harusnya berusaha keras membuat kalimat yang mewakili maksud saya. Saya tak perlu kecewa bila editornya melakukan pemenggalan kalimat secara presisi. Pengalihan dari bahasa lisan ke bahasa tulisan membolehkan penambahan kata-kata dalam tanda kurung untuk menjelaskan konteks. Kecermatan yang seharusnya mereka pertimbangkan.  Selain mendisiplinkan wartawan terhadap fakta, verifikasi ini perlu untuk hilangkan bias dan tendensi yang mungkin terselip di liputanya. Bias ini bisa berupa bias gender, suku,...

#2 Loyalitas: Pada Pebisnis, Politisi, Pemodal atau Pemirsa?

Image
Ketika jurnalis menulis berita, pada siapakah berita itu ia persembahkan? Saya berharap Anda tidak dengan gampangnya menjawab pembaca atau pemirsa . Secara normatif Anda benar. Namun situasinya sekarang tak semudah itu. Media massa lahir karena masyarakat butuh informasi, dan di pundak wartawan itulah kepercayaan masyarakat akan kelangsungan hidupnya dititipkan. Lalu muncul pebisnis dan pemasang iklan. Kini berita dilihat sebagai barang yang dijual, kini ia bertabrakan dengan profit. Ada beberapa kasus berita terpaksa dipotong karena iklan akan lebih besar dipasang. Kadang berita terhadap perusahaan tertentu jadi bagus sebab ia memasang iklan di medianya. Televisi pun memasang banyak acara hiburan yang kontraproduktif dengan visi jurnalisme yang mencerdaskan. Dalam Sembilan Elemen Jurnalisme, Bill Kovach menyebut akhir-akhir ini para redaktur media di Amerika Serikat mendapatkan bonus akhir tahun berdasarkan keuntungan perusahaan, bukan kualitas liputannya. Hal ini ...

#1 Kebenaran: Benar yang Bagaimana?

Image
Wartawan AS Sonia Nazario tidak memihak siapa-siapa saat dia menulis buku pemenang Pulitzer “Enrique’s Journey”. Sonia tidak membela Enrique dan 40.000 anak lainnya yang pergi dari Amerika Tengah ke Amerika Serikat secara ilegal, untuk bertemu ibu mereka yang juga di AS secara ilegal. Sonia tidak membela pemerintahan AS yang memberlakukan peraturan ketat soal imigran gelap. Sonia tidak mengatakan salah satu dari mafia Meksiko, keluarga Amerika Tengah, perawat, pastor, atau petugas imigrasi yang terlibat dalam semua ini jadi pihak yang benar. Di saat yang sama, saya baru membaca “Sembilan Elemen Jurnalisme” dari Bill Kovach. Pembahasan elemen   1 “memihak pada kebenaran” adalah bagian yang paling menarik namun juga bikin bingung. Kebenaran versi siapa yang ke sanalah jurnalisme berpihak? Apakah kebenaran versi pemerintah, redaktur, pemilik media atau siapa? Dalam kasus Sonia, siapa yang benar: Enrique atau pemerintah AS? Bill Kovach menegaskan bahwa kebenaran yang...