#3 Verifikasi: Kuncinya Cuma Curiga
Sebuah koran di Bandung pada November 2013 mengutip perkataan saya, “Jangan sampai Bandung ada kekerasan lagi, jangan sampai ada intoleransi dan mampu dihayati bersama guna menjaga Bandung.” Namun saya tak merasa benar-benar mengatakan frasa terakhir. Tulisan di atas mengindikasikan penghayatan pada intoleransi. Padahal maksud saya justru menghayati “jangan sampai ada intoleransi”. Ini menimbulkan penafsiran ganda. Adalah betul saya bicara seperti itu, namun jurnalis harusnya berusaha keras membuat kalimat yang mewakili maksud saya. Saya tak perlu kecewa bila editornya melakukan pemenggalan kalimat secara presisi. Pengalihan dari bahasa lisan ke bahasa tulisan membolehkan penambahan kata-kata dalam tanda kurung untuk menjelaskan konteks. Kecermatan yang seharusnya mereka pertimbangkan. Selain mendisiplinkan wartawan terhadap fakta, verifikasi ini perlu untuk hilangkan bias dan tendensi yang mungkin terselip di liputanya. Bias ini bisa berupa bias gender, suku,...